11.10.09

Mengurangi Bentakan Pada Anak


mommygadget.com
     Anak cenderung untuk meniru perilaku orangtuanya. Seorang anak yang selalu dibentak, diomeli, atau dimarahi, akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dia sah-sah saja berkomunikasi dengan menggunakan bentakan, omelan, atau kemarahan.
Nah, bagaimana me-manage kekesalan kita pada anak, supaya kita tak perlu ngomel (apalagi membentak atau memarahi)? Berikut ini tipsnya.


1. Berikan instruksi dengan jelas.
       Sebagai contoh, Anda sudah capek berkali-kali menyuruh anak menaruh baju kotornya di tempat khusus, tapi mereka tetap saja menggeletakkan baju-baju itu di lantai. Nah, daripada ngomel, lebih baik kita teliti, jangan-jangan anak kita memang belum bisa membiasakan diri melakukan sesuatu atau tidak paham instruksi kita.
        Anak usia di bawah 7 tahun butuh bantuan ortu dalam pembiasaan sesuatu. Jadi, jangan beri instruksi saja, melainkan ajak anak bersama-sama mengambil bajunya dari lantai lalu menaruhnya di ember cucian.

10.10.09

Latasha: Busana Muslimah Membuatnya Masuk Islam


Latasha dibesarkan di tengah keluarga Kristen yang taat. Sejak kecil ia biasa membaca dan mempelajari Alkitab dengan teratur. Tak heran ketika menginjak usia remaja, Latasha menjadi seorang penganut Kristen yang taat. Gereja sudah seperti rumahnya sendiri.

Latasha menikmati kehidupan relijiusnya, meski ia banyak menemui kesalahan-kesalahan dari Alkitab. Banyak kisah-kisah dalam Alkitab yang menurutnya saling bertentangan. Biasanya, ia menanyakan kebingunannya itu pada neneknya atau pastor gereja. Tapi ia tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Pada usia 20 tahun, Latasha ditunjuk untuk menjadi pastor muda di gerejanya. Ia makin giat memdalami Alkitab dan mendaftarkan diri ke Akademi Alkitab. Ia berharap dengan mendaftarkan diri ke akademi itu, ia akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya yang belum terjawab tentang hal-hal yang membingungkan dalam Alkitab.

Tapi di akademi itupun ia tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Sehingga ia memutuskan mundur sebagai pastor muda. "Saya merasa tidak bisa memimpin lagi anak-anak muda itu karena saya sendiri bingung dan merasa ragu. Sayalah yang masih membutuhkan seorang pemimpin. Hati saya menangis di tengah kebingunan itu, karena saya merasa tidak menemukan kedamaian," ungkap Latasha.

9.10.09

MENDIDIK ANAK TAAT SYARIAH

Oleh: Ummu Azkia

HTI-Press. Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?

Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar

Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ‘sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.

“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”